Camping Ria di Puncak Putuk Lesung Via Jalur Purwosari

Camping Ria di Puncak Putuk Lesung Via Jalur Purwosari

Putuk Lesung merupakan sebuah bukit yang berada di lereng Gunung Arjuno. Keindahan panorama puncaknya dengan vegetasi yang didomiasi oleh tumbuhan ilalang mampu membuat banyak orang penasaran, tak terkecuali para pencinta alam atau yang suka naik gunung seperti salah satu tim kami yang menjadi penulis di tipswisata.com ini. Pada hari sabtu kemaren (17/09/2016) salah satu tim tipswisata.com melakukan pendakian menuju puncak putuk lesung via Purwosari. Yuk simak kisahnya mulai dari pemberangkatan, rute menuju lokasi, harga tiket masuk, jalur pendakian, medan dan yang lainnya.
Putuk Lecung
Puncak Putuk Lecung
Bismillahirrahmanirrahim,

Hallo, Sebelumnya perkenalkan, nama saya Yayak. Disini saya akan menceritakan kisah saya dan teman-teman saat menuju putuk lesung. Pada hari sabtu kemaren kami melakukan tracking malam menuju puncak putuk lesung via Purwosari. Kala itu kami start dari surabaya sekitar jam 4 sore, karena lajunya cukup pelan dan memang pada waktu itu kondisi jalan lumayan macet, jadi kami tiba di Perijinan Pendakian Purwosari kira-kira waktu itu jam 19:00, memang santai dan sambil mampir-mampir di beberapa tempat.

Rute Menuju Lokasi Putuk Lesung
Putuk Lecung
Safa & Omen
Dari Surabaya kami mengarahkan kendaraan menuju Purwosari (Perijinan Pendakian Arjuno). Patokannya adalah setibanya di Pegadaian Purwosari belok kanan (kalau dari arah Surabaya putar balik dulu), kemudian ikuti jalan utama dengan jarak beberapa km hingga mentok di pertigaan, lalu belok kanan dan ikuti jalan hingga tiba di Perijinan Purwosari. Kondisi jalannya sudah sangat baik, hanya saja mungkin perlu berhati-hati karena sedikit berkelok dan naik turun tanjakan namun tidak terlalu parah. Lokasi perijinan berada di sebelah kiri Jalan.
Pos perijianan purwosari
Pos Perijinan Purwosari
Sekitar jam 19:00 kami tiba di Perijinan Purwosari. Sebelum melakukan pendakian menuju puncak putuk lesung, sebagai pendaki yang baik hati dan rajin menabung, kami pun lapor dulu dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 14.500 / orang. Loh kok Rp.14.500 pak, di banner kan tulisannya Rp.10.000 /orang untuk wisatawan Nusantara dan Rp. 25.000 untuk wisatawan Mancanegara ? “Saut si Selvi menanyakan kepada petugas penjaga POS” ( Maklum teman saya yang satu ini adalah anak Akuntansi yang lagi bergelut dengan skripsinya :p ), lalu Bapak tadi menjawab Rp 4500 nya untuk pemasukan Desa dan Asuransi mba’, kami pun tidak mempasalahkannya kalau memang itu sudah ditentukan (tapi kalau boleh saran sih, tulisan Rp. 10.000 di banner sebaiknya di edit Rp. 14.500 atau sekalian tidak usah dipajang agar pengunjung tidak merasa tertipu).

Baca Juga : Segarnya Udara Pagi Gunung Jaas Trenggalek

Setelah lapor, bayar tiket masuk serta leyeh-leyeh sambi cek logistik dan semunya sudah beres, kami pun bergegas melakukan pendakian malam hari menuju putuk lesung. Oh iya, yang tahu detail informasi mengenai putuk lesung termasuk rute dan jalur pendakiannya adalah si Safa, dia yang paling rame diantara kami, pokonya spesial dah, buat saya sendiri khususnya :p. Jadi Safa yang sering memberi petunjuk arah mulai dari start pemberangkatan.

Jalur Pendakian dan Medan Menuju Putuk Lesung

Karena sudah tidak sabar untuk segera berada di puncak bukit putuk lesung sambil menikmati secangkir kopi panas di tenda, kami pun segera bergegas melakukan perjalanan, jam menunjukkan 20:00 WIB. Setelah beberapa puluh meter dari post perijinan, kami menjumpai sebuah pertigaan, yang satu lurus dan yang satu lagi ke arah kanan, namun kami memilih jalan yang lurus, sedangkan yang ke arah kanan sebenarnya juga sama-sama menuju putuk lesung, tapi itu merupakan jalan tembusan (katanya ibu-ibu yang ada di rumah sebelah pertigaan).

“Foto-foto sepanjang perjalanan menuju putuk lesung adalah foto yang saya ambil pada saat setelah perjalanan turun dari puncak, karena waktu naiknya pas malam hari, jadi biar lebih jelas”

Lanjut cerita, tidak lama setelah melanjutkan perjalanan,kami mencium aroma menyan, setelah kami telusuri ternyata itu berasal dari dupa yang diletakkan di beberapa titik, entah siapa yang menaruhnya, tapi memang berdasarkan info yang kami dapatkan, wilayah putuk lesung terdapat beberapa tempat yang menjadi pelaksanaan ritual tertentu.

Putuk Lecung
Gapura Guo Onto Boego (di Pos I)
Putuk Lecung
Warung di Pos I

Malam itu bertepatan dengan malam purnama, jadi kondisi jalan terlihat cukup jelas, sampai-sampai saya sendiri tidak menyalakan senter saking jelasnya. Sekitar jam 9 lewat, kami tiba di POS I, Nah disini terdapat ground camp dan gapura Goa Onto Boego. di Pos I Kami hanya istirahat beberapa menit saja, lalu melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di POS II sekitar jam 22:00.

Percabangan Antara POS I & POS II

Perjalanan dari POS I ke POS II lebih terjal dari pada perijinan ke POS I. Antara pos II dan POS satu terdapat dua jalur pendakian, yang satu ambil lurus dengan medan yang lebih landai namun lebih jauh, kalau siang hari di jalur yang ini bisa melihat pemandangan kebun teh, sedangkan jalur yang satunya belok kanan dengan medan yang lebih terjal dan berbatu.

Putuk Lecung
Petunjuk Arah
Putuk Lecung
POS II

Dari POS II ke Puncak putuk lesung juga terdapat dua jalur, yang satu ke kiri (jalan cor) yang satu lagi ke arah kanan (lewat sebelah makam Eang Sekutrem). Tapi lebih cepat yang jalur kanan. Vegetasi dari POS II ke puncak lebih rapat, jalannya juga lebih sempit dibandingkan dengan yang dari perijinan ke POS II.

Putuk Lecung
Makam EangSekutrem

Dari POS II ke Puncak Putuk Lesung kami temput dengan waktu kurang dari satu jam-an. Setelah tiba di puncak, suara cempreng emak-emak (Rizka, Ayu, Selvi, Safa dan Omen) kembali cetar membahana setelah terdiam tampa kata (efek kecapean).

Lalu saya dan mas Steven alias Croco (Senior yang turut mendidik saya semasa MAPALA dulu) mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Ternyata kami suda tidak kebagian tempat, alhasil harus mencari lokasi lain, dan akhirnya kami mendirikan tenda di tempat yang juga tidak terlalu jauh dari tenda-tenda dari pendaki lain.

Putuk Lecung
Model Amatiran (Omen)

Setelah tenda selesai didirikan, barulah kami bersantai ria sambil menikmati keindahan bulan purnama dengan diselimuti sepoi angin yang cukup dingin. Sayang sekali tak lama kemudian hujan tun, dan apesnya tenda yang kami sewa tidak safety (bocor), namun alhamdulillah semuanya tenkendali.

Putuk Lecung
Mau Ziarah Buk ?

Pagi harinya barulah kami menikmati keindahan panorama alam puncak putuk lesung (yang cewek-cewek saja sih), saya, mas Croco dan Erik masih ngebo efek kedinginan beresin tenda yang bocor semalem. Setelah puas foto-foto dan menikmati anugerah alam sang pencipta, sekitar jam setengah 11an kami turun dari puncak putuk lesung.

Putuk Lecung
Lesung (di Puncak Putuk Lesung)

Oh iya, di Puncak terdapat bangunan musholla dan kamar mandi serta toilet, dan tentunya sebuha lesung (tempat menumbuk gabah / padi) yang lokasinya berada di dekat kamar mandi.

Putuk Lecung
Kamar Mandi di Puncak Putuk Lesung

Sekitar jam setengah dua siang, kami tiba di perijinan, harusnya lebih cepat, tapi kami masih mampir di Warung yang ada di POS I untuk menikmati secangkir kopi dan sisa camilan yang kami bawa. Setelah tiba di perijinan, saya pun mengambil KTP yang saya tinggalkan dan membayar uang parkir Rp 5000,- (Tarif parkir Rp. 5000 / malam)

Putuk Lecung
Perjalanan Turun

Nah, demikian sedikit cerita perjalanan saya dan teman-teman dalam melakukan pendakian menuju puncak putuk lesung. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi tambahan informasi bagi yang akan melakukan pendakian ke Putuk Lesung.

Sedikit pesan dari kami, bagi yang akan ke putuk lesung tolong jangan tinggalkan sampahnya ya, hargai apa yang tuhan kasih ke kita, kalau kita tidak bisa menjaganya, paling tidak jangan merusak atau mengotorinya. SALAM LESTARI.

Baca Juga : Rute Menuju Bukit Teletubbies Blitar Jawa Timur

Kata Kunci Pencarian :

  • Putuk Lesung
  • Puncak Putuk Lesung
  • Jalur Pendakian Putuk Lesung
  • Peta Lokasi Putuk Lesung
  • Rute Menuju Putuk Lesung
  • Harga Tiket Masuk Putuk Lesung