Benteng Pendem Ngawi, Wisata Bersejarah di Perbatasan Jawa Timur

Seperti yang telah diulas pada postingan sebelumnya bahwa Kabupaten Ngawi menyimpan sejuta pesona wisata yang mengagumkan. Selain Wisata Alam Kebun Teh Jamus, salah satu wisata yang tidak kalah indahnya adalah Benteng Pendem. Yahhh… memang tidak seterkenal dengan Benteng Vrederburg di Jogja dan Benteng Van Der Wijck di Kebumen, tapi percayalah Benteng Pendem memiliki keunikan tersendiri.
Benteng pendhem ngawi
Benteng Pendem Ngawi
Benteng Pendhem Ngawi
Wisata Benteng Pendem Ngawi
Apa sih Benteng Pendem ??
Benteng Pendem dibangun dari tahun 1839 sampai 1845, sehingga sekarang usia benteng tersebut adalah 171 tahun. Sebenarnya benteng ini bernama Benteng Van Den Bosch, karena benteng ini dahulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah yang berada disekelilingnya dan terlihat terpendam sehingga benteng ini lebih dikenal dengan Benteng Pendem. Tujuan dibangunnya Benteng Pendem adalah sebagai benteng pertahanan di area Jawa Timur bagian Barat sekaligus kamp militer tentara Belanda. Benteng Pendem diapit oleh sungai Bengawan Solo pada sebelah utara dan sungai Bengawan Madiun pada sebelah selatan. Hal tersebut agar mempermudah dalam hal akomodasi pengangkutan menggunakan transportasi air dengan faktor keamanan yang sangat mendukung. Tembok benteng berbentuk persegi panjang dengan ujungnya yang dilengkapi Seleka (Bastion), selain itu juga dikelilingi parit selebar 15 meter dan kedalaman 2 meter serta gundukan tanah sehingga benteng ini sangat kokoh sebagai pertahanan terhadap serangan. Bangunan benteng ini bertingkat yang terdiri dari pintu gerbang utama, ratusan kamar untuk para tentara, ruangan untuk kolonel dan ruang komando yang di depannya terdapat halaman rumput, serta terdapat beberapa ruangan yang diyakini sebagai kandang kuda.
Benteng Pendhem
Benteng Pendem
Benteng Pendhem Ngawi
Benteng Pendem Ngawi
Benteng ini terletak di Kompleks Angicipi Batalyon Armed 12. Benteng ini bisa dikatakan tempat wisata baru di Kabupaten Ngawi karena baru dibuka untuk umum pada tahun 2011. Sebelum dibuka untuk umum, benteng ini merupakan markas Yon Armed 12 dan juga merupakan tempat penyimpanan atau gudang amunisi. Akan tetapi setelah Yon Armed pindah di Jrubong, maka bangunan benteng ini dibuka dan dijadikan tempat wisata untuk umum. Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan penataan di sekitar kawasan benteng untuk dikembangkan sebagai andalan wisata edukasi dan sejarah di Kabupaten Ngawi. Cukup dengan membayar Rp.5.000 per orang, pengunjung sudah dapat menikmati keindahan Benteng Pendem ini. Untuk biaya parkir, pengunjung hanya membayar Rp.1.000 saja. Murah kan ? Benteng Pendem ini dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Baca : Pesona Wisata Air Terjun Dolo di Kediri Jawa Timur
Benteng Pendhem Ngawi, Wisata Bersejarah di Perbatasan Jawa Timur
Wisata Sejarah, Benteng Pendem Ngawi
Benteng Pendhem Ngawi, Wisata Bersejarah di Perbatasan Jawa Timur
Pintu Masuk Benteng Pendem Ngawi
Bagaimana jalan menuju ke benteng ini??
Untuk bisa menuju Benteng Pendem sangat mudah karena benteng ini terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Ngawi, tepatnya di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Dari arah mana saja baik Madiun, Magetan atau Sragen setelah sampai pada perempatan Kartonyono, selanjutnya menuju arah utara hingga sampai pada alun-alun Ngawi. Setelah sampai alun-alun Ngawi lalu belok kanan dan pada lampu merah pertama belok kiri lalu lurus terus hingga sampai Pasar Besar Ngawi. Setelah sampai pada Pasar Besar Ngawi terdapat jalan bercabang, maka ambil pilihan jalan sebelah kanan kemudian lurus lagi sampai menemukan TMP (Taman Makam Pahlawan). Nahhhh… disebelah timur laut TMP dapat dilihat bahwa terdapat sebuah benteng yang masyarakat Ngawi khususnya menyebutnya dengan Benteng Pendem.

Apa Saja yang Terdapat di Dalam Benteng Pendem ???

1.    Pintu Gerbang Depan
Pada Pintu Gerbang ini terdapat petugas penjaga militer yang juga tempat pembayaran tiket. Selain itu juga terdapat bekas pondasi jembatan angkat sebagai akses penghubung untuk menuju pintu gerbang depan pertama dan bekas gerigi katrol yang digunakan untuk mengangkat jembatan.

2.    Pintu Gerbang Utama
Pada pintu gerbang utama ini terdapat setelah pintu gerbang depan yang diatasnya terdapat tulisan 1839-1845, hal tersebut berarti bahwa Benteng Pendem dibangun selama 6 tahun. Arsitektur pada benteng ini memiliki cara bergaya Castle Eropa berpadu corak Indische.

3.    Kantor Utama
Pada kantor utama ini bangunannya bercorak Roman-Indische yang dahulunya digunakan sebagai gedung utama perkantoran bagi tentara Hindia Belanda berpangkat tinggi (setara Perwira dan Letnan). Terlihat bahwa terdapat 4 pilar penopang yang sangat kokoh dipadu dengan pintu dan jendela besar, sehingga terlihat seperti bangunan romawi. Kondisi kantor utama ini sudah tidak beratap lagi dan dinding yang sudah terkelupas, sedangkan lantainya masih asli bercorak papan catur dengan aksen warna putih dan kuning. Pada bagian ini terdapat barak bagi tentara berpangkat tinggi, dapur dan makam KH.Muhammad Nursalim.

4.    Makam KH. Muhammad Nursalim
KH. Muhammad Nursalim merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng Pendem ini, Beliau dipercaya sebagai penyebar agama Islam di Kabupaten Ngawi. Selain itu, juga terdapat kepercayaan bahwa Beliau memiliki kesaktian kebal terhadap peluru, sehingga pemerintah Belanda menguburnya hidup-hidup di salah satu bangunan utama Benteng Pendem.

5.    Kantor Umum
Kantor umum ini terletak dibagian depan kantor utama dengan kondisi bangunan tanpa atap dan hanya sebagian saja yang tersisa untuk dimanfaatkan sebagai sarang burung walet. Bangunan ini berlantai dua dengan tangga yang terbuat dari kayu, meskipun kayunya sudah tidak ada namun bekas tangga tersebut masih terlihat. Diantara kedua bangunan tersebut terdapat lapangan yang luas untuk kegiatan briefing persiapan apel pasukan atau upacara bendera. Sedangkan disebelah barat kantor utama terdapat bekas tempat peletakan jam yang suara loncengnya terdengar sangat keras saat akan diadakan aktifitas apel pasukan atau pergantian waktu.

6.    Bangunan Gedung yang di Bom oleh Jepang
Bangunan gedung ini terletak paling selatan yang berukuran seperti kantor umum dengan dua lantai. Dahulunya merupakan bagian dari barak (asrama tentara) Belanda akan tetapi pada saat perang dunia II (1942-1943) bengunan ini dibom oleh tentara Jepang sehingga beberapa bagian runtuh terutama pada bagian atap dan temboknya. Sedangkan pada bagian bangunan yang lainnya sudah ditumbuhi oleh pohon beringin yang sangat besar dan akar-akarnya yang mencengkeram. Pada bagian tengah bawah bangunan ini terdapat pintu gerbang yang menghadap kearah timur, dipercaya bahwa bagian ini merupakan tempat yang digunakan untuk kegiatan mengumpulkan dan memberi makan pekerja rodi.

7.    Ruang Penjara
Letak dari ruang penjara ini terdapat dibagian bawah tangga dari setiap gedung yang ada. Terdapat tiga buah ruang dari setiap penjara, mulai dari yang berukuran besar, sedang dan kecil (mengikuti bentuk/tinggi tangga) yang ditujukan mengikuti kesalahan dari tahanan mulai dari ringan, sedang hingga berat. Dahulu tahanan dimasukkan dalam ruangan dengan kondisi berjubel sehingga pengap dan sesak, sehingga banyak dari tahanan yang meninggal dunia saat berada di ruang penjara baik karena sakit, kelaparan atau harus berebut udara dengan tahanan yang lainnya.

8.    Gudang Amunisi
Gudang amunisi ini bersebelahan dengan ruang penjara dan dekat dengan bastion. Setelah Belanda meninggalkan benteng ini, Batalyon Armed 12 menggunakannya  sebagai gudang penyimpanan amunisi karena ruangan tersebut memiliki tingkat kelembaban yang tepat kemudian gudang amunisi dipindahkan ke Jrubong (Markas Kostrad).

9.    Barak (Asrama Tentara)
Bangunan barak sebenarnya berlantai tiga yang merupakan tempat bagi serdadu Belanda. Bangunan ini posisinya mengililingi kantor utama, kantor umum dan lapangan. Pada setiap gedung dilantai dua dihubungkan dengan jembatan penyeberangan. Kondisi barak ini kebanyakan sudah tanpa atap, keropos dan ditumbuhi oleh berbagai rumput, tanaman liar dan akar pohon beringin. Kayu yang digunakan sebagai sekat antara lantai dasar dengan tingkat diatasnya banyak yang telah lapuk dan mulai keropos. Konstruksi bangunan Benteng Pendem sangat kokoh, karena setiap dindingnya diperkuat dengan besi yang menyerupai jangkar atau kail sebagai penguatnya. Sejak dibangun pertama hingga sekarang, benteng ini sama sekali belum pernah direnovasi sehingga bangunan ini masih original.

10.Pintu Gerbang Belakang
Pintu gerbang belakang terletak dibagian paling timur Benteng Pendem yang posisinya menghadap langsung ke arah pertemuan dua sungai besar yaitu sungai Bengawan Solo dan Madiun. Pada gerbang ini terdapat jeruji pintu besi dan apabila telah keluar dari bangunan ini maka terdapat gundukan tanah dan parit.

11.Sumur
Sumur ini terletak dibagian belakang kantor umum dengan jumlah sebanyak dua sumur. Dahulunya sumur ini digunakan untuk membuang jenazah korban penangkapan (tahanan), korban pembataian anggota PKI 1966-1968 dan para pekerja rodi yang meninggal. Pada sumur pertama (sebelah timur) masih terdapat tembok pembatasnya, para korban diceburkan kedalam sumur sedalam 100-200 meter dalam kondisi meninggal ataupun sakit setelah kerja rodi. Suasananya terasa panas karena terdapat sekitar 50 jenazah yang masih terkubur. Sedangkan sumur kedua (sebelah barat) hanya terlihat bekas pondasi bata yang diratakan, suasananya jauh lebih panas karena terdapat lebih banyak jenazah yang tertimbun didalamnya.

Benteng Pendem ini cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata edukasi, karena masih terdapat sisa bangunan dari jaman penjajahan dahulu sehingga kita dapat mempelajari dan mengingat kembali salah satu sejarah kemerdekaan Indonesia. Selain itu, untuk kalian yang hobinya selfie ria gak ada ruginya deh mengunjungi wisata ini, selain murah juga sangat strategis untuk dijangkau.

Jangan Lupa, Baca Juga Wisata Nusantara Lainnya