Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali

Desa Wisata Penglipuran merupakan salah satu ikon desa wisata yang ada di Bali. Wisata Desa yang satu ini terbilang unik dengan tradisi dan budayanya yang masih sangat kuat ditambah dengan suasananya yang masih asri dengan pemandangan yang dapat memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestic yang pernah mengunjunginya. Secara geografis Desa Penglipuran berada di ketinggian sekitar 600-700 MDPL (meter di atas permukaan laut), hal ini menjadikan kawasan Penglipuran memiliki udara yang sejuk dengan tanaman yang tumbuh subur memberikan kesan sejuk dan asri.
Desa Panglipuran berada di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli. Untuk menuju ke objek wisata desa ini dapat ditempuh dengan jarak sekitar 45 km dari Denpasar dengan akses yang cukup mudah karena melewati jalur utama Bangli – Kintamani.  Ketika mulai memasuki wilayah Desa Penglipuran, sobat tipswisata.com akan menjumpai sebuah ruang terbuka layaknya pertamanan dengan pemandangan hijau tanaman yang tertata rapi, tempat ini merupakan batas desa yang disebut dengan Catus Peta dimana pengunjung akan mulai memarkir kendaraannya  dan membayar tiket masuk wisata desa penglipuran sebesar Rp. 10.000 – Rp. 15.000 (untuk wisatawan domestic) atau Rp. 25.000 – Rp. 50.000 (bagi wisatawan asing). Setelah melakukan pembayaran, pengunjung dapat memasuki kawasan rumah adat desa Penglipuran yang merupakan ciri khas dari desa ini.
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali

Keunikan Rumah Adat Desa Penglipuran Bangli

Rumah adat Desa Penglipuran merupakan rumah tradisional asli bali yang sampai saat ini masih dapat ditemukan dan tetap dipertahankan ditengah era moderenisasi dan perkembangan teknologi yang mulai menggeser adat dan budaya suatu daerah. Namun tidak dengan masyarakat Penglipuran yang tetap menjaga dan memelihara baik tempat tinggal maupun adat dan budaya dari nenek moyangnya. Rumah adat Desa wisata Penglipuran memiliki keunikan dimana bentuk antara rumah yang satu dan yang lainnya terlihat sama persis, apabila sobat berkunjung ke tempat ini coba perhatikan pintu gerbang rumah, atap ataupun dinding rumah terlihat terbuat dari bahan dan bentuk yang sama, selain itu untuk desain atau pembagian ruang di dalamnya juga memiliki kesamaan, misalnya untuk ruang dapur dan kamar tidur antara rumah yang satu dengan yang lainnya letaknya seakan sama persis. Sedangkan kebanyakan untuk bahan bangunan yang digunakan terbuat dari bambu. Konon, pada jaman kerjaan, tempat ini menjadi tujuan bagi raja- raja untuk  beristirahat karena dapat memberikan ketenangan dan kedamaian dengan suasananya yang damai. (Baca Juga : Pesona Bukit Jaddih Wisata Tersembunyi di Madura)
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali

Budaya Masyarakat Desa Penglipuran Bangli

Selain memiliki keunikan dari rumah adat, hal menarik lainnya dari Desa Penglipuran adalah adat dan budaya masyarakat sekitar yang masih kuat. Desa Panglipuran memiliki luar sekiar 112 hektar dengan tata ruang desa yang terdiri dari bagian utara merupakan wilayah dengan tempat yeng lebih tinggi dari lokasi  tempat tinggal penuduk, di bagian utara ini terdapat pura desa yang bernama pura penataran. Kemudian di bagian tengah desa merupakan lokasi tempat tinggal atau tempat dimana rumah adat berada. Jumlah kepala keluarga yang berada di desa penglipuran berdasarkan data pada tahun 2015 kurang lebih sekitar 226 kepala keluarga. Sebagian besar dari masyarakat Penglipuran memiliki mata pencaharian sebagai petani karena memang lahannya yang subur, peternak dan pengrajin anyaman bambu. Dari sekitar luas 112 hektare Desa Penglipuran, 40 % lahan merupakan hutan bambu yang tidak sembarangan orang boleh menebang pohon bambu tanpa seijin tokoh masyarakat Penglipuran. Dari sini dapat kita lihat bahwa masyarakat sekitar sangat menghargai alam.
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali
Pesona Keunikan Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran di Bali

Selain memiliki budaya menghargai alam, satu hal yang menarik adalah budaya atau adat yang melarang laki-laki untuk menduakan istrinya atau larangan poligami, larangan ini merupakan aturan desa yang apabila dilanggar maka akan mendapatkan hukuman berupa dikucilkan dari desa, hal ini karena masyarakat desa wisata Penglipuran sangat menghargai wanita.


Budaya unik lainnya dari masyarakat Penglipuran adalah ukuman bagi seorang pencuri. Apabila ketahuan mencuri di Desa ini, hukuman yang diberikan adalah si pencuri wajib memberikan sesajen berupa 5 ekor ayam dengan warna yang berbeda-beda di 4 pura leluhur mereka. Dengan demikian, masyarakat sekitar akan tau siapa pencurinya sehingga memberikan efek malu dengan tujuan agar pencuri jera dan tidak melakukan pencurian lagi di Desa Penglipuran.

Sentra atau kuburan merupakan zona terakhir di Desa Penglipuran. Walaupun   sebagian besar penduduknya beragama hindu, namun proses pembakaran mayat tidak dilakukan di Desa Panglipuran seperti halnya di bali pada umumnya, jadi apabila ada masyarakat yang meninggal, nantinya akan di kubur di Senta.

Kuliner khas Desa Wisata Penglipuran tidak dibahas secara detail disini, namun Desa ini memiliki minuman khas yang disebut dengan “loloh cemceman”. Rasanya rada asem seperti air tape dengan bahan dasar daun cemceman yang diperas sehingga warnanya terlihat hijau. Bangaiman, penasaran dengan rumah adat dan budaya serta minuman khas masyarakat Desa Wisata Penglipuran ?